• 03Apr

  • 17Mar
    kamus brand seminar di SMART BUSINESS FORUM

    kamus brand seminar di SMART BUSINESS FORUM

  • 26Feb

    tanggapan kamus brand

  • 16Feb

    Kamus Brand diluncurkan dalam bentuk seminar yang mengambil tema: “Branding the Crisis”, membahas berbagai strategi Branding disaat krisis dunia saat ini. Bentuk seminar ini dipilih agar ‘istilah’ yang ada di dalam Kamus Brand dapat menjadi begitu praktis dan dapat dimengerti dengan baik. Dalam seminar ini dihadirkan 3 pembicara muda, Andi S. Boediman dari Digital Studio, Yoris Sebastian Nisiho dari OMG, dan Yasha Chatab dari Brand Unon. Pada kesempatan pertama Andi menyoroti tentang pentingnya membangun ritual dalam komunitas Brand. Banyak ritual yang kita lakukan sekarang ini (contohnya mandi pagi) diciptakan oleh produsen kelas dunia.  Ritual ini harus benar-benar menjawab aspirasi khalayak pengguna Brand. Andi menjelaskan lewat studi kasus Axe, dimana Axe dijadikan ritual pria muda yang ingin berkenalan dengan wanita. Proses ritual yang diciptakannya adalah, menata rambut, pakai Axe, baru bertemu wanita. Semua aktivasi yang dilakukan Axe harus menjawab ritual ini.
    Yoris Sebastian melanjutkan sesi dengan menjelaskan pentingnya sebuah Brand dipromosikan lewat pembicaraan sehari-hari oleh khalayak ramai. Untuk dapat dibicarakan orang, kegiatan sebuah Brand haruslah memiliki diferensiasi yang sangat kontras dan emosional bagi khalayak ramai. Yoris menjelaskan lewat serangkaian event yang pernah ia kerjakan seperti I like Monday, dam Destination Nowhere. Dalam setiap event ini Yoris melakukan terobosan dengan menggunakan kreatifitasnya. Contohnya pada I like Monday, dimana pada saat itu tidak ada orang yang mau membuat acara pada hari senin karena dianggap hari pertama kerja. Tapi Yoris malah menangkap peluang Hard Rock café (saat itu dia menjabat sebagai general manager) dalam menjaring pengunjung yang ingin menikmati hari pertama kerja dengan suguhan musik-musik lokal. Yoris berujar bahwa tidak cukup hanya membuat orang-orang membicarakan sebuah Brand, tapi harus mulai mempromosikan atau bahkan di tingkat yang lebih lagi, menjual produk Brand anda. Contohnya dalam I like Monday, orang-orang malah mengajak teman-teman lainnya untuk datang ke acara tersebut tanpa disuruh. Prosesnya adalah awareness, talking, dan selling.  Intinya adalah bagaimana dengan kreatifitas sebuah Brand dapat melewati ketiga proses ini. Yoris menganggap proses ini sangat tepat diaplikasikan di saat krisis.
    Pembicara ketiga adalah: Yasha Chatab. Yasha menggantikan Daniel Surya yang hanya menyampaikan sambutan karena dalam keadaan kurang sehat. Yasha menggaris bawahi pentingnya membangun Brand Engagement, yaitu proses membangun internal perusahaan. Begitu banyak perusahaan melupakan pembangunan personal-personal di dalamnya sehingga service dari perusahaan menurun, dan menyebabkan repeat customer menjadi berkurang. Program internal ini harus dibangun lewat serangkaian komunikasi perusahaan lewat berbagai media yang ada.

    Seminar dilanjutkan dengan tanya jawab yang hangat dari peserta dan diakhiri dengan doorprize dan peresmian kamusbrand serta www.kamusbrand.com.

  • 05Feb


    Brand Personality

    Karakter brand yang dianalogikan seperti sifat manusia (seperti serius, hangat, imaginatif, dsb). Tujuannya untuk menggambarkan perbedaan antara brand yang satu dengan lainnya. Pada brand yang telah terencana dengan baik, karakter ini dapat dilihat dan dirasakan dalam setiap media komunikasi dan atributnya (kemasan, iklan, humas, komunikasi, dsb). (sumber: Kamus Brand)

    Kita memasuki masa-masa yang cukup menegangkan.  Psikologis kita dihadapkan pada berita-berita negatif tantangan imbas krisis dunia. Mungkin belum semua orang terkena imbasnya (atau mungkin juga sudah kena tapi tidak terasa karena selalu ada dalam keadaan krisis). Tapi setidaknya ada kegelisahan pernah terbesit di benak  dalam menghadapi apa yang akan terjadi di depan sana.

    Brand-Brand duniapun menghadapi tantangan yang luar biasa. Brand super besar yang sebelumnya tidak pernah kita kira goyah, mulai goncang.

    Pada saat ini akan lebih sulit meyakinkan khalayak dengan psikologis ‘sentimen negatif’dibanding masa-masa berkemakmuran.

    Akibat yang pasti adalah persaingan antar Brand menjadi semakin ketat.


    Pergeseran dari wants to needs to value

    Saat menghadapi krisis, ada kecenderungan  khalayak untuk mulai berhati hati dalam memilih produk atau jasa yang akan digunakan olehnya. Konsumen akan mengesampingkan produk atau jasa yang hanya merupakan ‘wants (keinginan)’ semata, dan memilih produk-produk atau jasa yang menjadi ‘needs’(kebutuhan).

    Namun kadang-kadang sulit membedakan  antara kebutuhan dan keinginan bukan? Di level tertentu keinginan dan kebutuhan menjadi bias. Bagi seorang perokok berat, rokok bukan saja keinginan, tapi kebutuhan, sehingga kita pernah mendengar sesumbar “Lebih baik tidak makan asal bisa tetap merokok”.
    Dari sinilah kita mengenal  bahwa  manusia tidak otomatis membedakan antara  kebutuhan dan keinginan. Sekalipun secara logika dia tahu bahwa suatu hal adalah keinginan semata, namun ada hal-hal tertentu yang merupakan ‘keinginan yang dibutuhkan’ (wants that needed). Jadi parameter apakah yang sebenarnya bekerja di dalam diri manusia? Inilah yang saya sebut parameter  nilai (Value Parameter).

    Manusia sebagai mahluk berakal budi memiliki tingkatan nilai yang merupakan hasil bentukan secara internal maupun eksternal. Secara eksternal bisa dipengaruhi dari pendidikan baik formal (sekolah) maupun informal (keluarga, masyarakat).  Kebudayaan setempat membentuk cara berpkir kita,  membentuk pola-pola apa yang baik, buruk,  berkenan tidak berkenan. Kita membentuk pola ‘apa itu sukses’, ‘apa itu bahagia’, ‘apa itu hebat’,  yang tentunya akan berpengaruh pada tindakan kita sehari-hari.
    Namun faktor internal kita seperti genetik dan psikologis juga merupakan faktor yang menyatu dalam pembentukan pola-pola nilai. Saya akan ambil contoh bagaimana faktor genetik mempengaruhi kita. Menurut penelitian genetika, ada orang orang tertentu yang kebal terhadap nikotin, dan tidak membuat dirinya kecanduan. Namun di lain orang, ketika dirinya terkena zat nikotin menjadi candu bagi dirinya. Jadi buat sebagian orang berhenti merokok adalah hal yang biasa, buat orang lainnya menjadi tantangan yang terlalu sulit. Faktor inilah satu hal yang menjawab mengapa sesumbar “Lebih baik tidak makan asal bisa tetap merokok” bisa tercetus.

    Seorang Brand manager yang baik mengetahui Value Parameter  ini. Needs dan Wants lebih mudah berubah, namun Value Parameter lebih sulit untuk berubah. Needs dan Wants lebih merupakan sebuah bentukan nyata (real) seperti barang dan tindakan atau jasa. Tapi value parameter lebih merupakan  act guidance yang akan melandasi keinginan dan kebutuhan tadi.

    You are is what you are in the dark

    Sebuah pepatah mengatakan bahwa diri Anda yang sebenarnya adalah ketika Anda dalam situasi sulit. Apa yang Anda pikirkan dan lakukan saat dalam keadaan tertekan adalah mencerminkan  Anda yang sebenernya. Tidaklah mengherankan kita melihat seseorang bisa berubah 180 ∞ saat dalam keadaan tertekan dan tidak menyenangkan. Orang yang tadinya ramah dan bersahabat bisa tiba-tiba jadi pemarah dan egois. Yang tadinya egois dan menyebalkan bisa menjadi penolong yang baik. Orang yang tadinya pemalu dan pendiam bisa menjadi pemimpin karismatik, dsb, dsb. Kesimpulannya, manusia yang baik teruji bukan saat-saat senang, tapi pada saat saat sulit.
    Sebagai mahluk sosial manusia berinteraksi satu dengan lainnya. Manusia mencari hubungan dengan manusia lainnya baik itu dalam bentuk anak, istri, suami, sahabat, dsb. Dan tentunya, kita akan mencari hubungan yang teruji tadi, baik dalam keadaan senang dan sulit.

    Brand kini diibaratkan sebagai manusia yang hidup. Brand dapat menjelma menjadi begitu ‘bernyawa’, karena memiliki karakter emosional yang dibentuk lewat hubungan antara konsumen dan Brand layaknya manusia dengan manusia. Karenanya kita mengenal istilah Brand Personality. Brand-brand yang baik dirancang sedemikian rupa agar begitu lekat dengan khalayaknya sehingga mereka memiiliki komitmen yang tinggi terhadap Brand tersebut layaknya hubungan yang akrab antar manusia. Brand layaknya manusia dapat diasosiasikan cerdas, terdepan, bersahaja, peduli, dewasa, manja, dsb. Bagainana personalitas Brand yang Anda miliki? Di saat krisis inilah saatnya yang tepat bagi Brand-Brand untuk membuktikan siapa diri sebuah Brand sebenarnya. Apakah Brand A hanyalah sebuah Brand yang menginginkan uang konsumen? (no money no honey!) Apakah Brand B adalah Brand memiliki komitmen sekalipun konsumennya tidak dalam keadaan menyenangkan?


    Brand Value in Crisis

    Brand yang baik sanggup melihat Parameter Value konsumennya dan sanggup berkomunikasi dengan pelanggannya lewat nilai-nilai tadi. Brand yang baik tidak hanya menjawab the customer needs, tapi lebih dari itu menjawab nilai-nilai lewat serangkaian Brand Activities. Bila Brand adalah seorang ‘sahabat’ apakah yang harus dilakukan ketika melihat sahabatnya dalam keadaan sulit? Memberi nasihat misalnya, mendengarkan, membela, memberi solusi, dsb. Perusahaan ING Direct memberikan ‘nasihat’ menghadapi krisis kepada pelanggannya tentang apa saja yang harus dilakukan unuk memotong pengeluaran dan menyimpan untuk hal-hal esensial lewat serangkaian email. Bagaimana dengan Brand Anda? Analogikan Brand Anda sebagai sahabat yang baik versi Anda, dan implementasikan dalam semua lini kegiatan Brand Anda.

    Konsistensi pada Nilai

    Ingatlah, bahwa nilai yang baik bukan hanya sesaat dilakukan, tapi dari serangkaian konsistensi. Manusia yang personalitasnya dianggap baik, bukan karena ia melakukan kebaikan satu kali, tapi berkali-kali, sehingga kita menganggapnya memang benar-benar baik. Di saa masa krisis, karena adanya ‘sentimen negatif’ tadi, banyak orang serta merta menghilangkan budget Branding perusahaannya. Upaya ini dilakukan  karena Branding dan segala kegiatannya (Marketing, Public relations, Advertising, dsb) hanya dianggap pemborosan belaka. Namun menurut beberapa penelitian* ternyata perusahaan-perusahaan yang dengan konsisten melakukan Branding di saat krisis memetk keuntungan lebih di dalam periode long term.
    Apa yang dapat kita simpulkan dari fenomena ini? Apakah berarti kita harus memakai budget fantastis untuk Branding di saat krisis? Tidak selalu. Be Wise! Kuncinya adalah konsistensi. Masalah budget memang harus disiasati dengan cerdas dan kreatif, tapi konsistensi dalam menyuarakan apa yang menjadi pesan Brand yang utama haruslah sustainable.

    Dalam seminar yang juga merupakan acara grand launching kamus Brand akan dibahas dengan gamblang bagaimana mensiasati komunikasi Brand yang lebih kreatif di saat krisis. (Seminar Info: www.kamusbrand.com)

    How Good is Your Brand?
    Seberapa baik Brand Anda? Mungkin saat dimana keadaan tak menentu ini adalah kesempatan yang baik untuk menunjukan siapa ‘Brand’ sebenarnya. Brand ini tidak hanya untuk Produk atau Jasa, bahkan diri Anda sendiri adalah sebuah Brand yang harus diuji ketika menghadapi krisis. Biar konsumen dan orang-orang sekitar Anda yang memberikan penilaiannya.

    Semoga Brand Personality yang baik bisa menjadi salah satu kekuatan dalam menghadapi masa krisis ini.

    *McGraww-Hill mempelajari di resesi tahun 1974/75 dan 1981/82 terjadi penurunan penjualan 21% dan 45% dalam dua tahun untuk perusahaan yang memotong investasi di pemasaran dan periklanan dibanding mereka yang tidak.
    * Riset PIMS membuktikan bahwa perusahaan yang menambah investasi selama resesi mencapai rata-rata return on capital 4,3%, dibanding yang menjaganya tetap ( 0,6%), dan yang memotong budget 0.8%

    ©mendiola b. wiryawan/mendioladesign associates

  • 23Jan

    What is Brand?

    Brand bukanlah logo dan brand bukanlah produk. Apa yang membedakan produk dan brand? Produk diciptakan di pabrik, sedang brand diciptakan di benak manusia. Ketika kita menyebut pasta gigi, Pepsodent dan Close Up adalah brand yang teringat, ketika kita menyebut ayam goreng, KFClah top of mind-nya.

    Jadi brand adalah gut feeling kita tentang suatu produk, bukan apa yang yang ingin diungkapkan oleh si pemilik brand, tetapi persepsi dari konsumen tentang brand.

    Benak manusia hanya mampu mengingat 2 – 3 brand di setiap kategorinya. Oleh karena itu beragam cara untuk membuat brand menjadi stand-out. Cara paling mudah adalah dengan membuat brand untuk harga murah, contoh, Attack menyerang Rinso, Avanza diposisikan menduduki pangsa mobil murah menggantikan Kijang yang naik kelas.

    Metode lain adalah dengan memperkecil kategori, jika Pepsodent adalah brand untuk pasta gigi keluarga, maka ada Close Up untuk pasta gigi remaja. Jika ada KFC untuk ayam goreng, maka ada Suharti, Fatmawati dan Pemuda untuk ayam goreng lokal.

    Menciptakan kategori baru juga merupakan salah satu solusi, seperti halnya Irex untuk pria sejati dan Extra Joss untuk penambah tenaga, padahal perbedaannya hanyalah tingkat konsentratnya. Salah satu brand yang cukup piawai membius adalah Pocari Sweat – pengganti ion tubuh. Masih ingat minuman yang rasanya asin manis…? Ya benar, oralit tepatnya! Pocari Sweat adalah oralit dengan tambahan ‘gas’. Nah sekarang silakan nikmati minuman ini setelah Anda tahu.

    That’s the power of brand!

    Diferensiasi

    Salah satu metode paling kuat untuk menciptakan brand adalah diferensiasi, silakan dibaca sebagai ‘Apa sih bedanya?’ Diferensiasi bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, baik dari produk, bentuk, layanan dan distribusi. Masih banyak hal lain yang bisa dideferensiasi seperti halnya packaging, iklan, dll.

    Dari segudang obat batuk, yang satu untuk batuk kering, yang lain batuk berdahak, ada pula obat batuk yang tidak bikin ngantuk. Jika ada biangnya, buat apa pilih botolnya, menandakan diferensiasi dari sisi ‘bentuk produknya’. Banyak produk jamu yang saat ini perlu mengalami perubahan bentuk karena tuntutan zaman, misalnya jamu dalam bentuk kaplet, atau cairan. Masih ingat Komix yang menggunakan sachet ketimbang botol? Saat saya tanya ke konseptor Komix dan Extra Joss kenapa punya ide brilyan memilih sachet, jawabannya adalah ‘Karena kita nggak punya mesin botol!’

    Jika Anda harus datang ke Pizza Hut untuk makan, Domino Pizza menggaransi 15 menit pizza terkirim ke rumah, ini adalah contoh diferensiasi distribusi. Studi kasus paling sukses mungkin adalah becak dari Walls, di mana kita nggak perlu mencari toko ice cream, tetapi ice cream akan datang ke rumah Anda.

    Ketika saya datang ke Hard Rocks di eX – Plaza Indonesia, si pelayan begitu sok coolnya berjongkok dengan dagu nempel di meja sambil bersiul-siul nunggu kita mesen. Wow, that’s diferensiasi dari sisi layanan, begitu menyebalkan buat saya, tapi mungkin pas buat pasar orang-orang sok cool di seluruh Jakarta! Buktinya rame tuh!

    Siklus Produk

    Ketika produk mulai diperkenalkan, orang selalu bertanya ‘Apa itu?’ berikutnya adalah ‘Bisa ngapain tuh?’, dilanjutkan dengan ‘Gue demen nggak tuh?’ yang terakhir adalah ‘Gue musti punya, it’s so damn cool!’.

    Ketika produk baru diperkenalkan, semua orang bertanya buat apa sih, di sini kita mengkomunikasikan ‘What it is!’ Dengan What it does’ kita memperkenalkan fungsi dan keuntungan produk, misalnya Blue Band memberikan resep2 bagaimana membuat berbagai menu menggunakan margarin, Aqua menganjurkan minum 3 liter sehari, prinsipnya adalah increase usage. Perlu diingat, mandi, cuci rambut dan sikat gigi setiap hari adalah konsep yang diperkenalkan oleh consumer product seperti P&G di abad 20. Seabad lalu, kita melakukan hal ini mungkin seminggu sekali.

    Ketika produk menjadi komoditi, kita mulai memilih berdasarkan perasaan, muncullah Pepsi ‘the next generation’ minuman untuk generasi muda yang mudah diidentifikasi dengan musik sebagai tanda zaman. Coca Cola yang kehilangan banyak pasar membalas dengan ‘the real thing’, ini baru yang aslinya, bukan ikut-ikutan!

    Siklus berikutnya adalah ketika brand telah menjadi identitas. Bos-bos berkeliling menggunakan Harley Davidson untuk mengidentifikasi ‘big boys toys’. Hanya yang benar-benar desainer yang menggunakan Apple. Jika Mercedes identik dengan ‘bos gedhe’ maka BMW sebagai ‘mainan eksekutif muda sukses’. Di sini brand mengajak untuk Join the Club. Kampanye A Mild yang aneh dan nggak nyambung banget itu karena mencoba untuk masuk ke posisi ini.

    Kondisi pasar dan segmentasi akan menentukan strategi yang kita gunakan.

    Innovation

    source: Crossing the Chasm – Geoffrey Moore

    Dari sekian banyak inovasi di dunia, hanya sedikit yang mampu bertahan hidup dan muncul sebagai produk konsumen. Inovasi produk diikuti oleh para innovator dan early adopter, mereka yang ‘mau memahami teknologi’. Tetapi para early dan late majority selalu akan menunggu hingga ‘teknologi yang mengerti Anda’. Laggards adalah mereka yang ngotot tidak mau mengikuti teknologi.

    Produk berada pada siklus early dan late majority ketika kita tidak perlu menjelaskan apa itu produk, contoh: handphone dan Internet sekarang berada pada siklus ini. Tetapi database Oracle dan SAP akan tetap untuk para innovator dan early adopter karena mereka hidup dari niche market.

    Ketika berada di siklus innovator dan early adopter, product leadership selalu bisa dijual dengan harga premium karena itu adalah nature dari market ini seperti halnya komputer SGI. Market ini selalu membutuhkan solution provider karena merekalah yang akan menggabungkan berbagai teknologi untuk menjadi solusi siap pakai.

    Intel adalah contoh perusahaan yang mampu melakukan innovation terus menerus. Innovation tidak berarti teknologi harus kompatibel dengan masa lalu, seperti halnya teknologi AMPS, GSM dan CDMA pada handphone, atau Wordstar dan Miscrosoft Word untuk software pengolah kata. DuPont yang terkenal dengan Lycra (bahan stretch), Teflon dan CFC (chloro fluoro carbon, bahan AC) merupakan contoh perusahaan kimia yang selalu muncul dengan innovation dan ketika produk mulai menjadi komoditi, mereka akan menjualnya karena profit terlalu kecil.

    Activation

    Ketika produk masuk ke pasar mainstream, maka harga harus relatif murah, sangat mudah digunakan dan ditandai dengan servis atau distribusi yang baik. Di seluruh rangkaian siklus adopsi ini, ketiga faktor, produk, servis dan distribusi harus dipilih dua dari tiga.

    Innovation pada siklus ini terjadi untuk membuat produk lebih mudah atau lebih murah. Sedang activation kita lakukan untuk brand agar dikenal masyarakat. Agar menjadikan Biore pore pack relevan dengan masyarkat, activation dilakukan dengan menggunakannya as a fashion statement di eX, semua orang yang masuk ditempelin biore di hidungnya. Activation Panther dilakukan dengan lomba irit, Lux dengan fashion show, rokok dengan konser musik. Pertanyaannya adalah ‘Does it always work?’

    Activation ditujukan untuk membangun brand awareness, membuat terjadinya product trial dan menjalin relationship dengan customer dan distributor. Semua events, sampling, dll, hanyalah alat. Orang akan bosan dengan metode yang sama dilakukan berulang-ulang. Jadi yang harus disusun adalah core value dari brand dan mencari metode yang selalu segar di dalam kampanye komunikasi.

    Dengan fragmentasi media dewasa ini, activation tidak bisa memisahkan above atau below the line communication, tetapi bagaimana menciptakan total campaign yang mengkombinasikan berbagai media dengan model 360º communication. Media bisa broadcast seperti televisi, koran, majalah, radio, bisa juga sponsorship pada acara musik, fashion, dll, bahkan acara public relation yang menghadirkan publisitas tinggi seperti memecahkan rekor dunia. Dengan konsep media neutral campaign, media bisa sangat kreatif, seperti happening art jamur berlari-larian di seputar Hotel Indonesia untuk kampanye Daktarin atau stiker promosi Snapple – minuman segar rasa buah di Amrik yang ditempel pada buah segar beneran. Sebagian orang menyebutnya dengan ambience media.

    Brand Steward

    Banyak model hubungan kerja antara pemilik brand dan agensi. Pemilik brand bisa menyerahkannya kepada perusahaan Integrated Marketing Communication, di mana agensi ini bisa memiliki seluruh tim secara inhouse atau mereka menjadi organizer dari agensi khusus lain yang menangani masing-masing elemen komunikasi.

    Alternatif berikutnya adalah perusahaan memiliki brand steward yang mengorganisasikan seluruh elemen ini, bisa sebagai posisi brand manager, marketing manager/director atau dipegang oleh CEO langsung.

    Analogi terbaik posisi brand steward adalah ibarat seorang sutradara film dan konduktor musik, mampu menggabungkan berbagai elemen untuk menghasilkan satu kesatuan komunikasi yang harmonis.

    Consumer Insight

    Dengan memahami consumer insight, Sampoerna Ijo menerjemahkan ‘mangan nggak mangan asal ngumpul’ menjadi kampanye yang berhasil. Tetapi adaptasi ‘kalo nggak ada lu nggak rame’ malah bergeser dari consumer insight yang sebenarnya.

    Kampanye ‘Pria punya selera’ yang lebih ke pria pernah digeser ke selera dengan iklan yang menunjukkan ke selera masa kini, menjemput cewek pake pesawat, bermain basket tanpa melihat, dll. Mungkin ini too smart untuk target marketnya sehingga kini kembali ke kampanye semula.

    Brand Leadership

    Agar brand menjadi tetap relevan, brand perlu mengambil sikap leadership. Mereka tidak bertanya dan menunggu permintaan dari pelanggan, tetapi brand menunjukkan apa yang konsumen mau. Sony dengan walkman, Apple dengan iPod, merupakan contoh konkrit hal ini. Lux melakukan kesalahan dengan meminta publik untuk mengatakan siapa yang pantas menjadi Bintang Lux. Lux sebagai brand leader kini menunjukkan leadershipnya dengan memilih dan menunjuk seseorang menjadi Bintang.

    Brand leaders don’t ask people what they want, but they tell them what people want!

    oleh: Andi S. Boediman dari blog: http://andisboediman.blogspot.com/

  • 20Jan

    Tags:
  • 01Oct

    BRAND ibarat MATAHARI. Matahari yang sama, yang bersinar setiap hari, memiliki arti yang berbeda untuk setiap orang. Untuk sebagian orang berarti panasnya, sebagian lagi melihat terangnya, warnanya, energinya, indahnya, sisi mitos spiritualnya, nilai filosofisnya, dsb. Namun semua hal itulah yang membentuk konsepsi utuh sebuah identitas bernama ‘matahari’. Demikian juga brand. Terdapat banyak persepsi terhadap brand, yang dilihat dari berbagai kacamata profesi dan posisi berbagai pihak. Bagi seorang konsumen, brand adalah A. Bagi seorang marketer, brand adalah B. Bagi pengusaha, C, bagi desainer, D, dst. Namun semua pendapat inilah yang membentuk konsepsi utuh sebuah brand.

    Dari pengalaman saya dalam mengembangkan desain berbagai brand, saya sungguh merasakan pentingnya kolaborasi yang solid di antara berbagai disiplin, berbagai talenta/kemampuan/kapasitas, berbagai institusi, pribadi dan kelompok, baik internal maupun eksternal dalam membangun sebuah brand yang sukses. Tanpa ada kolaborasi yang baik, brand tidak mungkin dapat berkembang dengan baik sesuai harapan. Kolaborasi ini membutuhkan satu ‘bahasa’ yang sama, suatu bentuk istilah-istilah yang dipahami bersama, agar komunikasi berjalan dengan baik sehingga tujuan brand dapat dicapai dengan tepat dan efisien. Latar belakang inilah yang melandasi lahirnya Kamus Brand. Selama ini istilah-istilah brand dan branding hanya dipakai dalam komunitas tertentu, di buku-buku, seminar-seminar brand, tanpa ada yang pernah mengumpulkannya agar mudah dipelajari dan dimengerti dalam bahasa Indonesia. Kamus Brand merupakan sebuah buku paduan dalam memahami istilah-istilah yang dipakai dalam brand dan branding. Setelah melalui proses pengumpulan, pembandingan, pemilahan, pencarian padanan, wawancara, maka demikianlah Kamus Brand ini disusun seperti yang ada di tangan Anda saat ini. Tentunya banyak kesulitan yang dirasakan kami dalam mengembangkan buku ini. salah satunya, kesulitan dalam menemukan padanan bahasa Indonesia (karena sebagian besar istilah-istilah brand dan branding berasal dari bahasa asing). Contoh sederhananya kata ‘brand’ itu sendiri. Menurut kebanyakan Kamus Inggris-Indonesia, brand diartikan merek atau cap/marka. ‘brand’ yang serta merta diterjemahkan menjadi ‘merek’ akan sedikit banyak kehilangan kompleksitasnya. Brand dan branding yang telah dipakai secara internasional, dan dikembangkan menjadi suatu terminologi tersendiri, seakan telah terstandarisasi dalam komunikasi global. Untuk itulah penyusun merasa perlu tetap mempertahankan kata brand tanpa perlu menerjemahkannya ke dalam kata ‘merek’. Demikian semua istilah lainnya (penyusun hanya menuliskan artinya dalam bahasa Indonesia). Penyusun sadar, bahwa pengambilan keputusan ini mungkin dirasa kurang bijak bagi para ahli bahasa yang berusaha mengembangkan kapasitas bahasa Indonesia. Namun kembali ke tujuan semula, kamus ini lebih sebagai ‘alat’ untuk menyatukan istilah, memahami seluk beluk brand yang berlaku secara global, untuk selanjutnya berkolaborasi dalam pembangunan dan pengembangannya. Kesulitan lainnya adalah ketidakbakuan istilah-istilah brand. Banyak istilah-istilah yang diciptakan pihak tertentu, untuk mewakili ide-ide mereka dalam konteks brand. Istilah-istilah ini seringkali sama, kadang berbeda, untuk menjelaskan arti yang sama, atau berbeda, tergantung situasi, kondisi, dan perspektif masing-masing pihak yang berkepentingan. Belum lagi istilah-istilah brand lainnya yang berkembang dari waktu ke waktu seiring dinamisnya dunia brand dan branding. Karenanya buku ini bukan bermaksud ‘membakukan’ istilah istilah yang ada, hanya sekedar ‘membukukan’ istilah-istilah yang dinilai cukup kompeten digunakan dalam kolaborasi pemahaman dan pembangunan sebuah brand.
    Istilah-istilah dalam brand dan branding merupakan gabungan dari berbagai istilah dari disiplin marketing, bisnis, periklanan, desain, dsb. Karenanya proses dalam mencari istilah dengan relevansi yang paling dekat dengan tujuan buku ini menjadi sangat sulit. Setelah lewat berbagai proses seleksi, dipilihlah istilah dalam buku ini, yang dianggap penyusun telah memiliki relevansi cukup baik untuk kita ketahui bersama. Karenanya buku ini jauh dari kesempurnaan. Penyusun berharap Kamus Brand hanya merupakan awal bagi terbukannya dialog kita semua, para pelaku, pemerhati dan pengguna brand dan branding. Kami membuka kesempatan seluas-luasnya kepada semua pihak, untuk memberi kritik, saran, pendapat, pengalaman, koreksi, tambahan dan hal lainnya yang relevan dengan Kamus Brand ini. Silahkan kunjungi: www.kamusbrand.com. Didalamnya juga berisi info, link, update dan berita-berita terkini lainnya seputar brand dan branding yang kiranya berguna untuk pengembangan brand dan branding di Indonesia.

    Harapan kami, Kamus Brand ini dapat berguna bagi para pembaca sekalian. Semoga Kamus Brand dapat ikut berpartisipasi dalam mendorong lahirnya ‘Brand-Brand Global Made in Indonesia’, yang tidak hanya akan mengharumkan nama Indonesia di muka bumi, namun membawa kesejahteraan bagi masyarkat, bangsa dan negara Indonesia.

    Salam Brand Indonesia!
    Mendiola B. Wiryawan